Feeds:
Posts
Comments

12/9/10

it’s been a while since I’ve posted anything, so here goes, a mini-fiction based on real life, enjoy!😀

We can’t leave an event this important to somebody as selfish as her“, Aria snarled at the forum. “But we will have other opportunities for her later“, he quickly added. All of us were angry, or at the very least annoyed by how she worded her statement before, so I couldn’t help but note the subtleness of Aria’s anger. He didn’t raise his voice that much, but I noted in my head how he stressed out the word ‘selfish‘.

Why would he hide it?”, I thought to myself. Well if you saw his eyes, you would have seen that his pupils shrunk in size rather quickly. And for a very short moment they glistened with fury, to the point where one could easily have mistaken it for hatred. Nobody was levelheaded enough to pay attention to details like that for the moment though.

It then hit me. Aria was more than angry, he was furious. He cared about this matter more than the rest of us, so it would only be natural that he was the first to blow the fuse. Alas, our union right now is no more than a ball of salt lying down on a thin layer of ice of a pond in the beginning of spring, so we couldn’t afford it breaking down at a critical time like this.

Aria was the first to cast his fury aside, so we would see that there are more important matters that we need to handle rather than fussing over the fuse that was lit.

Tumblr

Belakangan ini gw lebih memilih buat bikin update di tumblr, dibandingkan dengan membuat sebuah tulisan disini. Buat yang ingin melihat tumblr gw, sok aja, cek link berikut. rizmp.tumblr.com

Akibat Iseng Bertanya

Ini baru aja gw alami di kampus sejam yang lalu. Kejadiannya setelah pembagian tugas tambahan osjur di depan Comlabs. Jadi setelah itu sebagian dari kami berkumpul di taman segidelapan yang berada diantara Oktagon dan TVST (tau kan?). Kebetulan saat itu gw berada di sebelah temen gw yang bisa ‘melihat’, sebut saja Aji. Gw sendiri baru tau soal ini setelah baca di facebook, jadi ada sedikit rasa penasaran buat mengetes kenyataan ini.

*Awalnya gw ngedengerin pembicaraan orang lain, trus gw nanya ke Aji.*
Gw : Ji, lo bisa ‘melihat’ ya?
Aji : Insya Allah iya…
Gw : Klo gitu coba dong, di sekitar sini ada ga?
Aji : *nengok sekeliling* Disini ga ada sih, paling yang ada di gedung PAU sana.
Gw : Oh ya? ada apaan?
Aji : Cewe.
Gw : Oooh. Trus klo di deket intel banyak ga?
Aji : Daerah situ baik kok, jadi ga ada apa.
Gw : Lah, emang ada daerah yang ga baik gitu?
Aji : Iya.
Gw : Trus contoh daerah ga baik yang pernah lo samperin dimana? yang deket itb deh.
Aji : Lapangan Sipil.
Gw : Klo lapangan SR engga?
Aji : Engga. Klo di Sipil kan banyak pohon-pohon gedenya, ga kaya disini, pohonnya kecil-kecil.
Gw : Oooh.

*kemudian gw dengerin pembicaraan orang lain lagi.*

Dan karena gw suka iseng nanya-nanya, jadinya pertanyaan yang nongol di kepala gw tanya aja. Ternyata gw salah ngebiarin pertanyaan itu ngeluncur dari mulut gw.

Gw : Ji, kembali ke yang di PAU itu lagi deh. Misalnya lantai teratas PAU itu gw anggep lantai 1, trus yang bawahnya lantai 2 dan seterusnya. Yang di PAU itu ada di lantai berapa?
Aji : *Diem sejenak sambil melihat ke arah PAU* Lantai 2 sih jal.

*Dan tiba-tiba si Aji ga nengok ke PAU lagi, dia balik badan.*

Aji : Jal jal jal. Gw engga mau ngeliat ke sana dulu. (dari suaranya rada panik)
Gw : Emang kenapa ji?
Aji : Soalnya yang di PAU itu lagi ngelihatin KITA!
Gw : *Cuma bisa mikir, “oh shit!” dan berakhir ketakutan sendiri*

9 Oktober 2009

Ini adalah cerita singkat mengenai kehidupanku di hari ini, 9 Oktober 2009. Ini adalah aku dalam perjalanan menuju kosanku dengan menaiki angkot hijau (entah itu Kalapa-Dago maupun Dago-Stasion, sama saja) yang memang sudah biasa menemani keseharianku dalam urusan pulang pergi dari kosan menuju kampus. Dan ini adalah aku, duduk di angkot dengan perut yang terus bergejolak seakan tanpa henti karena konstipasi.

Konstipasi? Ya. Konstipasi. Konstipasi ini menyebabkan aku tidak banyak bicara dengan rekan sekelasku sewaktu di FTMD, sehingga dia lebih memilih untuk berbicara dengan beberapa mahasiswi-mahasiswi dari India yang duduk disebelah. Maafkan aku teman. Kalau saja aku sedang tidak mengalami konstipasi aku tidak akan memilih untuk bungkam setelah menyapamu di angkot. Bukan karena ingin meninggalkan imej sombong, tetapi karena aku sedang sembelit di dalam angkot. Entah apa yang terjadi kalau aku terlibat pembicaraan yang menyebabkanku secara tidak sengaja kehilangan kontrol dan mengendurkan otot yang menahan feses ini keluar (aku tidak ingin membayangkannya -_-).

Oh iya. Andai kalian tidak tahu, konstipasi itu adalah versi elit dari kata sembelit. Namun tulisan ini ada bukan untuk menceritakan hal trivial seperti sembelit. Tetapi juga bukan untuk menceritakan mengenai hal yang luar biasa pula. Ngomong-ngomong soal luar biasa, apakah sebuah tulisan harus membahas hal yang luar biasa? Tentu saja tidak. Tulisan itu ada bukan untuk menuliskan hal yang luar biasa, namun untuk menemukan keluarbiasaan dari kehidupan sehari-hari yang biasa, paling tidak begitu pendapatku.

Sebelum tulisan ini melenceng, mari kulanjutkan. Bila kalian menemuiku pada jam 3 sore pada 9 Oktober 2009, maka kalian akan mengetahui bahwa sebelumnya aku akan menghadapi sebuah ujian pada saat itu. Sebuah ujian tertulis. Sebuah Ujian Tengah Semester (UTS). Mata kuliahnya? MA1101 alias Kalkulus IA.

Seandainya kalian mengenalku di dunia nyata, dan mengetahui sistem pembelajaran di ITB, maka kalian akan menyadari kalau aku mengulang mata kuliah itu. Kenyataan bahwa aku tidak terlalu serius menjalani kuliah sewaktu semester 1, fakta bahwa aku mendapat dosen yang terkenal strict, dan realita bahwa belajar kalkulus itu sedikit banyak mengandalkan memori (dimana kemampuan otakku sendiri bukan yang terbaik di bidang ini) menyebabkan aku gagal. Kegagalan ini sempat lama menghantui pikiranku, namun setelah beberapa waktu aku dapat menerimanya.

Kebetulan jadwal ujian untuk yang mengulang mata kuliah Kalkulus IA diadakan bersamaan dengan mereka yang masih di tahap paling bahagia, TPB. Jika mereka yang TPB tersebar di seluruh kampus, maka kami hanya berada di GKU Timur. Jika mereka yang TPB merayakan kegalauan ujian kalkulus dengan kepanikan karena ini adalah ujian pertama mereka, maka kami (paling tidak aku sendiri) merayakannya dengan rasa takut. Takut gagal. Takut jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Oke, kembali ke kejadian jam 3. Setelah mengambil tempat duduk, akhirnya ujian dimulai. Tekanan yang sudah lama tidak kuhadapi sejak UAS semester 2 akhirnya rasakan kembali. Ini adalah ujian 5 soal yang memegang sekitar 20% nilai kalkulus. Pelan-pelan kucoba untuk memahami pertanyaan dari nomor 1 dan menjawabnya dengan hati-hati. Aku tidak ingin kehilangan nilai akibat dari kelalaian sederhana seperti kesalahan memahami soal. Meskipun aku memakan waktu agak banyak hanya untuk pertanyaan pertama, namun menurutku tidak masalah. Terjawabnya pertanyaan nomor 1 itu membuatku mendapatkan dorongan semangat untuk menjawab pertanyaan sisanya dengan lebih cepat dan akurat.

Setelah nomor 2 selesai, aku melanjutkan ke nomor 3, dan kemudian nomor 5. Aku mendapatkan firasat bahwa nomor 4 akan sedikit panjang untuk diselesaikan, dan kemudian aku menyadari bahwa firasat ini tepat. Saat tengah mengerjakan nomor 4 ternyata waktunya sudah habis.

Waktu menunjukkan pukul 16.42, dengan kata lain akhirnya ujian selesai. Para pengawas mulai mengumpulkan berkas-berkas ujian. Manusia-manusia berhamburan keluar ruangan kelas. Ada sekelompok mahasiswa yang membahas soal yang telah dikerjakan, ada yang merenungi sendiri ketepatan jawaban yang telah dia tuliskan di lembaran jawaban, ada yang merasa pusing akibat tidak mampu menemukan jawaban dari soal UTS, dan ada yang bersikap ‘bodo-amat-uts-barusan-yang-penting-udah-kelar’.

Suasana ini tidak asing untukku. Suasana ini mengingatkanku pada UTS pertama Kalkulus IA setahun yang lalu. Kegalauan sebelum dan sesudah ujian. Saat itu aku masih bisa menghibur diri ketika tidak bisa mengerjakan soal sebab dalam pikiranku ‘tidak apa-apa gagal di UTS pertama, toh masih ada UTS kedua dan UAS’. Bahkan saat itu kedua temanku, I Made Arya Utamaningrat (antara nama, muka dan bahasa daerah yang dia kuasai tidak ada yang sinkron) dan Northy Baihaqi (si hobi menggambar mesin dan hal-hal yang berbau teknik) masih bisa merayakan kegalauan setelah UTS kalkulus dengan menyalakan kembang api kecil-kecilan di depan TVST. Masa-masa yang cukup berkesan untukku.

Namun sekarang keadaannya sudah jauh berbeda. Ini tahun kedua kuliah bung. Tidak ada lagi menyemangati diri dengan pikiran-pikiran menghibur yang semu. Tidak ada lagi perasaan ‘tidak apa-apa gagal di UTS pertama, toh masih ada UTS kedua dan UAS’. Tidak ada lagi Made dan Northy yang menyalakan kembang api kecil seusai ujian. Yang ada hanyalah aku, dalam perjalanan kembali ke kosanku, dan (insya Allah) memegang kemenangan kecilku.

(nb: sesampainya di kamar mandi, akhirnya aku melepaskan apa yang telah kutahan sepanjang ujian itu.)

From A Dream I Just Had

The story here came from a dream I just had today. After waking up, I quickly wrote it down. Here it goes:

“Where’s dad!?”, the boy exclaimed. The boy’s uncle just stood still. The boy shouted now,“WHERE’S DAD!?”. A twitch can now be seen on his uncle’s face.
Realizing they wouldn’t get anywhere by him being quiet, the boy’s uncle finally started speaking. He started with the words, “I originally planned on moving your father to this room…”

A quiet but cold tension filled the air, the boy was getting impatient.

His uncle then continued, “..but I can’t now. You must not see your father right now in this state!”
Hearing these words, the boy’s face showed great sorrow. He clenched his fists, bit his lips and his body started shaking. The thought was too much for him, eventually a teardrop streaked down from his eyes, which were followed by many more teardrops.
In a saddened tone, the boy could only say,”Then…does this mean that….”. His uncle cut his words by saying, “Yes kiddo. ‘They’ got to him.”

Then the boy started bursting into tears.

Love Quote from A Pure Sanguine

langsung aja, berikut ini adalah quote dari orang yang paling sanguin yang pernah gw kenal di muka bumi ini, hha.

“if you love someone who can’t love you back, she doesn’t deserve you. the hardest part is letting go.
but you’ll do whatever it takes to bring a smile upon her face, though you’re not part of her happiness. cause that’s love..for real.”

– Rachmat Fathoni

The Alpha Condition?

“I thought the words appearing in my mind when I am half asleep is a sign that I might be losing my mind, but it turns it might be the manifestation of my creativity..”